Vitamin C Turunkan Kadar Asam Urat

Vitamin C Turunkan Kadar Asam Urat

VITAMIN C ternyata tak hanya bagus untuk memperbaiki kondisi tubuh usai operasi atau saat lemah, melainkan juga baik bagi mereka yang menderita penyakit asam urat atau gout, satu bentuk rematik yang menyebabkan munculnya peradangan pada sendi-sendi.

"Asupan vitamin C menyediakan pilihan lain yang bermanfaat dalam mencegah penyakit asam urat," jelas Dr. Hyon Choi dan koleganya dari universitas British Columbia di Vancouver, Kanada.

Korban-korban penyakit gout memiliki ciri biasanya berusia 40-an atau lebih dan pria, meski kadang juga wanita. Vitamin C dikatakan para ahli ini dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah.

Gout, merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sendi dan terkait dengan penyalahgunaan alkohol, kegemukan, tekanan darah tinggi dan diet tinggi daging serta keju.

Di Amerika Serikat, penyakit ini nyaris menyerang sekitar 3 juta warga. Sebuah observasi atas 47.000 pria Amerika dari tahun 1986 hingga 2006 dengan beragam masalah kesehatan menemukan bahwa setiap 500 mg vitamin C yang dikonsumsi menurunkan risiko terkena gout hingga 17 persen.

Sementara itu. sekitar 70 mg vitamin C dapat Anda peroleh dari sebuah jeruk. Konsentrasi lebih tinggi dapat diperoleh dari pil suplemen.

Risiko makin berkurang hingga 45 persen bagi mereka yang mengonsumsi Vitamin C 1.500 mg per hari dibanding mereka yang mengonsumsi 250 mg per hari, kata tim yang dikepalai Choi yang sekarang mengajar di Universitas Boston, Amerika Serikat.

Sumber : Yahoo!Health"

Diet Bagi Penderita Asam Urat (Gout)

Saran diet: diet rendah purin

Hasil Laboratorium
  • Asam urat > 7
Tujuan Diet:
  • Mengurangi pembentukan asam urat karena dapat menyebabkan rasa sakit di sendi.
  • Mengurangi terjadinya pembentukan batu di ginjal.
  • Menurunkan berat badan yang berlebihan.
Makanan yang dilarang:
  • Makanan kaleng (sarden), jeroan, bebek, burung, angsa, melinjo, kacang polong, makanan mengandung ragi, alkohol.
Makanan yang perlu dibatasi:
  • Asparagus, bayam, kembang kol, jamur dan lemak.
Makanan yang dianjurkan:
  • Makan tinggi karbohidrat: nasi, jagung, mie, kentang, singkong, ubi, talas.
  • Protein: ayam, ikan, susu, telur, buah dan sayur kecuali yang dilarang.
Saran:
  • Olahraga teratur minimal 3x seminggu selama 30 menit. Makan teratur dengan jumlah atau pembagian makan sesuai anjuran.
Is Nicotine Patch really safe? | I Love My Health!

Is Nicotine Patch really safe? | I Love My Health!

Is Nicotine Patch really safe? | I Love My Health!: "Nicotine patches appear to be safe aide for smoking cessation, even among patients with coronary artery disease and active ischemia, finds a study by Methodist DeBakey Heart Center researchers.

In this prospective, multicenter, randomized, placebo-controlled trial, 55 participants who had a greater than nine percent ischemic perfussion defect size ( based on SPECT scan) and who smoked over 20 cigarettes per day were randomly required to receive eight 21 mg nicotine patches or placebo patches while continuing to smoke."


Diet Bagi Penderita Tekanan Darah Tinggi

Diet Bagi Penderita Tekanan Darah Tinggi

Saran diet: diet rendah garam

Tujuan Diet:
  • Membantu mengurangi penimbunan garam dan air.
  • Membantu mengurangi tekanan darah
  • Menurunkan berat badan yang berlebihan.
Makanan yang dilarang:
  • Garam dapur, vetsin, soda kue.
  • Zat pengawet dan pewarna.
  • Corned beef / makanan yang diawetkan.
Makanan yang perlu dibatasi:
  • Ayam, ikan max. 100 gr/hr.
  • Telur max. 1 butir /hr.
  • Susu segar max. 2 gelas/hr.
  • Makanan yang diawetkan.
Makanan yang dianjurkan:
  • Bahan makanan segar.
  • Sirup, juice.

Saran:
  • Olahraga teratur minimal 3x seminggu selama 30 menit. Cara memasak dengan dibakar atau ditumis.
Obesity and heart transplantation

Obesity and heart transplantation

Being obese should not deny a patient having heart transplantation, say a lecture presented during the 56th Annual Scientific Session of the American College of Cardiology.

Guidelines for listing candidates for heart transplant were recently revised to include obesity ( BMI greater than 30kg/m2) as a potential reason for denial. However, the supporting evidence for the recommendation was very weak, so that researchers from the Columbia University College of Physicians and Surgeons in New York examined if there was indeed a link between pre-heart transplant BMI and post-transplant survival using data from United Network for Organ Sharing (UNOS).

In this study, experts looked at more than 18000 first-time adult transplant recipients between 1995 and 2005. Subjects were divided into standard BMI categories: underweight, normal, overweight, obese, severely obese and morbidly obese.

Findings from the study showed that while the normal weight patients had the best survival (10.1 years), there was no statistical difference in the survival after transplantation among obese patients (9.6 years) and among the less severely overweight patients (9.7 years).

The findings, according to Dr. Mark Russo, lead researcher of the study, do not support the recommendation, but that, to the contrary, it shows that obese patients do not face an increased risk of death after transplantation.

all copied from http://ilovemyhealth.blogspot.com

EKOR KUCING

EKOR KUCING

EKOR KUCING

Acalypha hispida Burm. F

Famili : Euphorbiaceae

Daerah : Jawa : Ekor Kucing, Sunda : Talianjing, Ternate : Lofiti

Asing : Cat’s tail, Gou Wei Hong (Cina)

Sifat Kimiawi : Kaya kandungan kimia antara lain acalyphin, flavonoid, saponin, tanin. Penutup luka dan Peluruh air seni.

Efek Farmakologis : Dalam farmakologi Cina, tanaman ini bersifat Rasa manis, Sejuk, Kelat dan menghentikan pendarahan.

Bagian tanaman yang digunakan : Untai bunga dan daun.

Cara budidaya : Perbanyakan tanam-an dg menggunakan stek batang. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dg cara penyiraman yg cukup, menjaga kelembaban dan pe-mupukan terutama pupuk dasar

Resep tradisional:

1. MUNTAH DARAH : Bunga di kunyah mentah bersama pinang putih, kalau perlu tambah jahe sedikit, kencur, daun pule yang masih muda. Lakukan sepanjang hari. Atau bunga dilumatkan bersama gula sama banyak, makan.

2. DISENTRI : Untai bunga 10-30 gram, direbus, minum.

3. RADANG USUS : Untai bunga 10-30 gram, direbus, minum.

4. CACINGAN : Untai bunga 10-30 gram, direbus, minum.

5. KUSTA : Daun secukupnya di cuci bersih, tambahkan kencur secukupnya, ditumbuk halus sampai jadi seperti bubur. Di pakai untuk mengoles bagian badan yang luka.

Sembilan Bulan Masa Kehamilan (Trimester 3)

Sembilan Bulan Masa Kehamilan (Trimester 3)

Sebelumnya telah dibahas perubahan-perubahan yang terjadi pada ibu dan janin pada Trimester I dan Trimester II (sudah baca belum?). Kali ini kita bahas perubahan-perubahan yang terjadi pada Trimester Ke III masa kehamilan.

Pertumbuhan dan pematangan bayi terjadi mulai dari permulaan trimester ketiga. Bayi mulai memutar kepalanya kearah bawah. Persediaan lemak tubuh berkembang dan bayi bergerak lebih banyak pada usia ini. Karena pertumbuhan dan aktifitas yang amat cepat dari bayi, ibu hamil pada usia ini sering merasa panas dan berkeringat. Sesak nafas kadang-kadang terjadi jika bayi kebetulan menekan paru-paru ibu.

Memasuki bulan kesembilan, kepala bayi telah berputar ke posisi bawah dan tidak dapat bergerak dengan mudah. Pada minggu-minggu terakhir dari kehamilan, perubahan-perubahan terjadi dalam tubuh ibu hamil untuk mempersiapkan kelahiran bayi. Leher rahim (serviks) menjadi lebih lunak dan kontraksi lebih jelas. Akhirnya tulang panggul melunak untuk memberikan jalan kepala bayi turun ke leher rahim. Hal ini menambah keinginan buang air kecil. Berat badan bayi saat ini kurang lebih 3,2 kg dengan panjang badan kira-kira 45-50 cm. bayi siap untuk dilahirkan.

Perubahan fisik
  • Bayi mulai menendang dengan keras dan gerakan bayi mulai kelihatan dari luar.
  • Suhu tubuh meningkat sehingga Anda merasa kepanasan.
  • Kesulitan mendapat posisi tidur yang enak
  • Rahim telah mulai berkontraksi ringan. Kontraksi ini disebut Braxton Hicks kontraksi.
  • Pada bulan kedelapan, payudara tidak membesar lagi, tetapi cairan putih encer mulai keluar. Cairan ini disebut kolustrum, yang diberikan pada bayi sebelum susu keluar.
  • Pada bulan terakhir kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental.
  • Bengkak pada kaki mulai bertambah.
  • Jika mengalami sesak nafas selam mengerjakan sesuatu yang mengeluarkan tenaga, batasi melakukan hal tersebut hanya 15 menit sehari. Bayi telah berkembang dan meninggikan diafragma Anda, maka kapasitas paru-paru menurun.

Perubahan Emosional
  • Bulan terakhir kehamilan biasanya terasa gembira bercampur takut karena kelahiran telah dekat.
  • Kekhawatiran akan apa yang terjadi pada saat melahirkan, apakah bayi akan lahir sehat dan memikirkan tugas baru sebagai ibu. Pemikiran dan perasaan seperti ini sangat bisa terjadi pada ibu-ibu hamil. Kemukakan pada suami Anda perasaan ini.
  • Jika Anda telah mendengar banyak cerita kuno mengenai kelahiran bayi, jangan terlalu dipikirkan terlalu serius, bila nada merasa ragu, konsultasikan dengan dokter Anda.
Snake Bite

Snake Bite

Introduction

Most snakebites are innocuous and are delivered by nonpoisonous species. Twenty-five species of poisonous snakes make North America their home. Worldwide, only about 15% of the more than 3000 species of snakes are considered dangerous to humans. The family Viperidae is the largest family of venomous snakes, and members of this family can be found in Africa, Europe, Asia, and the Americas. The family Elapidae is the next largest family of venomous snakes. In North America the venomous species are members of the families Elapidae, and Viperidae, subfamily Crotalidae.

The subfamily Crotalidae (pit vipers) includes rattlesnakes (Crotalus and Sistrurus), cottonmouths (Agkistrodon), and copperheads (Agkistrodon). The Western diamondback, timber, and prairie rattlesnakes are pit vipers (see Image 1). A triangular-shaped head, nostril pits (heat-sensing organs), elliptical pupils, and subcaudal plates arranged in a single row are characteristic features of Crotalidae. They may be found in all regions of the country, and their habitat varies by species. Cottonmouths reside near swamps or rivers. Copperheads are found in aquatic and dry environments, and rattlesnakes prefer dry grasslands and rocky hillsides.

Elapidae includes the coral snakes (Micrurus fulvius fulvius and Micrurus fulvius tenere; see Image 2). The eastern and western species that inhabit the United States are smaller and brightly colored with red, yellow, and black rings. The nonvenomous king snakes share the same colors but not in the same order. A common warning is "red on yellow, kill a fellow; red on black, venom lack." Coral snake pupils are round, and their subcaudal scales are arranged in double rows. The southern and southwestern states provide the dry sandy conditions (and often a body of water) that coral snakes prefer.

Cobras, mambas, and kraits also are also members of the family Elapidae but are not indigenous to the Americas. However, an increasing number of exotic species are kept by both zoos and private collectors making bites by non-indigenous species increasingly common.

Pathophysiology

Venom is produced and stored in paired glands below the eye. It is discharged from hollow fangs located in the upper jaw. Fangs can grow to 20 mm in large rattlesnakes. Venom dosage per bite depends on the elapsed time since the last bite, the degree of threat the snake feels, and the size of the prey. The nostril pits respond to the heat emission of the prey, which may enable the snake to vary the amount of venom delivered.

Coral snakes have shorter fangs and smaller mouths. This allows them less opportunity for envenomation than the crotalids, and their bites more closely resemble chewing rather than the strike for which the pit vipers are famous. Both methods inject venom into the victim to immobilize it quickly and begin digestion.

Venom is mostly water. Enzymatic proteins in venom impart its destructive properties. Proteases, collagenase, and arginine ester hydrolase have been identified in pit viper venom. Neurotoxins comprise the majority of coral snake venom. Specific details are known for several enzymes as follows: (1) hyaluronidase allows rapid spread of venom through subcutaneous tissues by disrupting mucopolysaccharides; (2) phospholipase A2 plays a major role in hemolysis secondary to the esterolytic effect on red cell membranes and promotes muscle necrosis; and (3) thrombogenic enzymes promote the formation of a weak fibrin clot, which, in turn, activates plasmin and results in a consumptive coagulopathy and its hemorrhagic consequences.

Enzyme concentrations vary among species, thereby causing dissimilar envenomations. Copperhead bites generally are limited to local tissue destruction. Rattlesnakes can leave impressive wounds and cause systemic toxicity. Coral snakes may leave small wounds that later result in respiratory failure from the typical systemic neuromuscular blockade.

The local effects of venom serve as a reminder of the potential systemic disruption of organ system function. One effect is local bleeding; coagulopathies are not uncommon with severe envenomations. Another effect, local edema, increases capillary leak and interstitial fluid in the lungs. Pulmonary mechanics may be altered significantly. The final effect, local cell death, increases lactic acid concentration secondary to changes in volume status and requires increased minute ventilation. The effects of neuromuscular blockade result in poor diaphragmatic excursion. Cardiac failure can result from hypotension and acidosis. Myonecrosis raises concerns about myoglobinuria and renal damage.

Mortality/Morbidity
  • Deaths secondary to snake bites are rare. With the proper use of antivenin, they are becoming rarer still. The national average has been less than 4 deaths per year for the last several years.
  • A review of morbidity associated with snakebites from Kentucky was published. Most bites were from copperheads and resulted in 8 days of pain, 11 days of extremity edema, and 14 days of missed work.1 A review specifically of copperhead bites in West Virginia described similar outcomes and noted that the peak effects of envenomation were not present until over 4 hours from the bite.2
  • Local tissue destruction rarely contributes to long-term morbidity. Occasionally, skin grafting is required to close a defect from fasciotomy, but wounds requiring fasciotomy to reduce compartment pressures from muscle edema are infrequent.
  • Data gathered in a 5-year retrospective chart review from the University of Tennessee Medical Center at Knoxville (UTMCK), a level-I trauma center, focused on 25 bites. Of these, 4 required fasciotomy and 2 subsequently needed split-thickness skin grafting. The average length of stay was 3.2 days. No deaths occurred, and morbidity was limited to the local wounds.

Clinical
History

History usually can be obtained from the patient. Most cases result from attempting to handle snakes, so the genus usually is known. Knowledge of indigenous fauna also is important.

The time elapsed since the bite is a necessary component of the history. This allows assessment of the temporal effects of the bite to determine if the process is confined locally or if systemic signs have developed.

  • Obtain a description of the snake or capture it, if possible, to determine its color, pattern, or the existence of a rattle.
  • Most snakes remain within 20 feet after biting.
  • Assess the timing of events and onset of symptoms. Inquire about the time the bite occurred and details about the onset of pain. Early and intense pain implies significant envenomation.
  • Local swelling, pain, and paresthesias may be present.
  • Systemic symptoms include nausea, syncope, and difficulty swallowing or breathing.
  • Determine history of prior exposure to antivenin or snakebite.
  • Determine history of allergies to medicines because antibiotics may be required.
  • Determine history of comorbid conditions (eg, cardiac, pulmonary, and renal disease) or medications (eg, aspirin, anticoagulants such as warfarin (Coumadin) or GPIIb/IIIa inhibitors, beta-blockers).

Physical

Follow the established routine for a complete comprehensive examination.

  • Vital signs, airway, breathing, circulation
  • Fang marks or scratches (determine coral snake bite pattern by expressing blood from the suspected wound)
  • Local tissue destruction
  1. Soft pitting edema that generally develops over 6-12 hours but may start within 5 minutes
  2. Bullae
  3. Streaking
  4. Erythema or discoloration
  5. Contusions
  • Systemic toxicity
  1. Hypotension
  2. Petechiae, epistaxis, hemoptysis
  3. Paresthesias and dysthesias - Forewarn neuromuscular blockade and respiratory distress (more common with coral snakes)

Causes

* In the United States, more than 40% of victims put themselves in danger by either handling pets or attempting to capture reptiles in the wild. The popularity of keeping exotic species has increased the number of envenomations by nonnative species.
* UTMCK data support this by reporting that 15 of 25 patients were bitten handling snakes; 2 of these were involved in religious ceremonies.
Source: emedicine.medscape.com
Menggosok Gigi Yang Benar

Menggosok Gigi Yang Benar

Menggosok gigi atau menyikat gigi sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Tujuannya untuk memperoleh kesehatan gigi/mulut dan napas menjadi segar. Karena sudah menjadi kebiasaan, sering kali kita tidak tahu apakah cara kita menggosok gigi sudah benar, ataukah kita menggosok gigi hanya untuk sekedar rutinitas saja.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggosok gigi adalah:
  • Cara menyikat harus dapat membersihkan semua deposit pada permukaan gigi dan gusi secara baik, terutama saku gusi dan ruang interdental (ruang antar gigi);
  • Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi dan mengabrasi lapisan gigi dengan tidak memberikan tekanan berlebih;
  • Cara menyikat harus tepat dan efisien.
  • Frekuensi menyikat gigi maksimal 3 X sehari (setelah makan pagi, makan siang dan sebelum tidur malam), atau minimal 2 X sehari (setelah makan pagi dan sebelum tidur malam).
Menyikat gigi harus dilakukan secara sistematis, tidak ada sisa makanan tertinggal. Caranya menggosok mulai dari gigi belakang kanan/kiri digerakan ke arah depan dan berakhir pada gigi belakang kanan/kiri dari sisi lainnya.

Beberapa macam cara menggosok gigi, yaitu:
  1. Gerakan vertikal. Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang atas dan bawah tertutup. Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke pipi (bukal/labial), sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap lidah/langit-langit (lingual/palatal), gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan mulut terbuka. Cara ini terdapat kekurangan, yaitu bila menggosok gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gingival/penurunan gusi sehingga akar gigi terlihat.
  2. Gerakan horizontal. Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal dan lingual. Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub brush. Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi permukaan kunyah. Kombinasi gerakan vertikal-horizontal, bila dilakukan harus sangat hati-hati karena dapat menyebabkan resesi gusi/abrasi lapisan gigi.
  3. Gerakan roll teknik/modifikasi Stillman. Cara ini, gerakannya sederhana, paling dianjurkan, efisien dan menjangkau semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari permukaan oklusal/bidang kunyah, ujung bulu sikat mengarah ke apex/ujung akar, gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat bergerak dalam lengkungan.
Pada waktu bulu-bulu sikat melalui mahkota gigi, kedudukannya hampir tegak terhadap permukaan email. Ulangi gerakan ini sampai lebih kurang 12 kali sehingga tidak ada yang terlewat. Cara ini dapat menghasilkan pemijatan gusi dan membersihan sisa makanan di daerah interproksimal/antara gigi.

Dengan paparan di atas, kini kita dapat memilih sesuai seleranya masing-masing dan memerhatikan etika menggosok gigi dengan baik dan benar. Tidak malas lagi menggosok gigi, budayakanlah menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur malam, luangkanlah waktu sebentar untuk memelihara gigi Anda dan mencapai napas segar. Perlu diingat dan diperhatikan bahwa sumber infeksi itu berawal kondisi gigi dan mulut Anda.
10 Makanan Bermelamin Temuan YLKI

10 Makanan Bermelamin Temuan YLKI

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengklaim masih menemukan sebanyak 10 jenis makanan yang mengandung melamin, zat berbahaya dan terlarang untuk dimasukkan ke dalam bahan pangan.

Menurut Ketua YLKI Husna Zahir kepada wartawan di Jakarta, Rabu [04/03] , hasil penelitian yang dilakukan YLKI ini bekerja sama dengan Laboratorium Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Husna memaparkan, 10 jenis makanan tersebut diuji dari keseluruhan 28 sampel produk yang diperoleh YLKI dari sejumlah tempat di wilayah ibukota antara lain dari Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Untuk itu, ia juga berharap agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengujian kembali terhadap berbagai jenis makanan yang diduga mengandung melamin.

Kesepuluh jenis makanan yang menurut hasil pengujian YLKI didapati mengandung melamin adalah:
  1. Kino Bear Coklat Krispi 3×3,5 gram (registrasi MD 662211108168)
  2. Yake Assorted Candies 500 gram (tidak ada nomor registrasi)
  3. F & N susu kental manis 390 gram (ML 505417006156)
  4. Kembang Guka Tirol Choco Mix 10 pcs (ML 237103407045)
  5. Dutch Mill Yoghurt Drink Natural 180 ml (ML 406505001229).
  6. Pura Low Fat UHT Milk Beverage 1 liter (ML 405708002189)
  7. Nestle Bear Brand Sterilized Low Fat Milk 140 ml
  8. Crown Lonx Biskuit Rasa Coklat 150 gram (ML 827118009109)
  9. Fan Fun Sweetheart Biscuits 45 gram (tidak ada nomor registrasi)
  10. Yake Assorted Candies 500 gram (tidak ada nomor registrasi).

Menolak

Sementara itu, kuasa hukum F & N, Suteja, menolak bahwa produk makanan F & N ada yang mengandung melamin karena berdasarkan metode pengujian yang dilakukan oleh F & N, yang sesuai dengan yang standar yang diterapkan BPOM, tidak terdapat adanya melamin.

Selain itu, Suteja juga mengemukakan kekecewaannya karena YLKI tidak memastikan bahwa produk F & N yang diujikan adalah benar-benar asli atau merupakan produk palsu atau “bajakan”. Ia juga menyayangkan pihak YLKI yang tidak mengkonfirmasikannya terlebih dahulu kepada pihak F & N. Untuk itu, ujar Suteja, pihak F & N tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan gugatan hukum bila hasil penelitian ini tetap disebarluaskan oleh YLKI.
Sumber: Kompas

Menikmati Sex Ala TAO

Apa yang sering disajikan melalui film biru seperti adegan keluar masuknya Mr.P dengan cepat dan terus-menerus sebenarnya merupakan teknik bercinta yang salah, sebab hal itu justru mempercepat ejakulasi dan sedikit memberikan kenikmatan pada pasangan.

Taoisme memandang pemasukan Mr.P yang tepat adalah penting untuk mendatangkan kenikmatan persetubuhan, pengendalian ejakulasi dan kesehatan seksual. Dan yang lebih penting adalah memastikan bahwa pasangan Anda sudah terangsang. Terlalu cepat memasukkan Mr.P hendaknya sedapat mungkin dihindari mengingat Miss V perlu waktu yang cukup untuk terlumasi dengan baik sehingga tidak sakit saat dimasuki.

Teknik menarik dan mendorong Mr.P yang baik dan diatur sedemikian rupa juga dapat menghindarkan Anda dari ejakulasi dini.

Taoisme mengembangkan berbagai pola pemasukan yang berlainan, yang kebanyakan berkisar antara pemasukan dangkal dan yang dalam. Pola ini mendorong pria untuk memasukkan Mr.P-nya beberapa kali secara dangkal lebih dahulu sebelum memasukkannya dalam-dalam. Yang paling sering adalah 9:1. Yaitu 9 tusukan dangkal dan 1 tusukan dalam. Jika Anda sedang belajar mengendalikan ejakulasi dini maka bisa diubah menjadi 6:1 atau 3:1

Saling bergantian antara pemasukan dangkal dan dalam ini tidak hanya membantu Anda bisa bertahan lebih lama namun juga akan sangat merangsang pasangan Anda. Pemasukan dalam akan mendorong seluruh udara keluar liang senggama, menciptakan ruang hampa, yang diperkuat oleh pemasukan dangkal

Kalau pria memasukkan Mr.P-nya dalam-dalam, ia akan menariknya keluar semua yang dapat menggosokkan kepala Mr.P-nya, titik paling peka pada Mr.P, terhadap panjang atau dalam dari Miss V seluruhnya.

Kalau Anda kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi, maka pendorongan keluar masuk secara dalam akan sangat bermanfaat. Karenanya pemasukan Mr.P keluar masuk secara dalam semua dan cepat akan sangat merangsang Mr.P sehingga biasanya akan menjadikan cepat ejakulasi.

Dengan alasan inilah Taoisme mengajarkan pemasukan Mr.P ke arah atas dan bawah. Pemasukan seperti ini memanfaatkan bagian dasar Mr.P Anda yang merupakan bagian kurang peka, untuk merangsang kelentit pasangan Anda, yang merupakan bagian yang sangat peka bagi wanita.

Ingatlah bahwa kelentit wanita sangat berbeda dengan Miss V. Kelentit dapat menjadi alasan mengapa beberapa wanita lebih mudah mencapai orgasme selama bersetubuh daripada wanita lainnya. Anda akan mampu merangsang wanita melalui kelentitnya dengan pemasukan penis kearah atas dan bawah. Model ini sangat membantu selama persetubuhan yang sangat intim.

Posisi pasangan dalam bercinta ini merurut Taoisme bukan hanya sekedar selingan. Namun masing-masing memiliki fungsi penyembuhan dan penciptaan energi yang berlainan. Taoisme percaya bahwa cinta yang diungkapkan melalui Seks merupakan pengobatan paling kuat.

Taoisme mungkin dapat meresepkan beberapa minggu persetubuhan sepenuhnya dalam posisi tertentu untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Kalau Anda ingin mencobanya dan menggunakannya untuk penyembuhan diri, semuanya diuraikan dalam buku berjudul Healing Love Through The Thao: Cultivating Female Sexual Energy (Cinta Penyembuhan melalui Thao: Mengerahkan Energi Seksual Wanita).

Posisi Pria di Atas

Bahkan sebelum para pendeta sampai ke negeri China, Taoisme telah lama menggunakan posisi di mana pria berada di atas tubuh wanita sebagai salah satu posisi dalam persetubuhan. Biasanya di sini pria menggunakan tangan atau sikunya. Salah satu manfaat posisi ini adalah bahwa Anda dan pasangan bisa saling menatap dan berpandangan atau berciuman dengan penuh gairah.

Posisi berhadapan muka dan saling memandang akan sangat memuaskan emosi Anda dan pasangan karena semua organ indera kelima (mata, hidung, mulut, telinga dan kulit) bisa saling bersentuhan langsung.

Dalam posisi ini pihak wanita bisa merabakan tanggannya ke punggung Anda untuk mengalirkan energi ke atas sampai ke kepala Anda. Dengan posisi ini ada banyak persentuhan bagian tubuh Anda dengan pasangan dan berat tubuh Anda berada di atas tulang kemaluannya dan payudaranya dapat membantu mempercepat nafsu birahinya.

Kekurangan utama posisi ini adalah biasanya tanggan Anda tidak leluasa bergerak karena harus menyangga berat badan Anda agar tidak membebani tubuh pasangan Anda. Selain itu besar kemungkinan titik G (G-spot) yang merupakan titik kelemahan wanita nyaris tidak tersentuh, kecuali Anda memiringkan tulang kelangkang dan menggangkat penis Anda ke atas.

Posisi Wanita di Atas

Banyak pria merasa bahwa dengan posisi ini paling mudah mengendalikan ejakulasi dan untuk dapat menimbulkan orgasme berulang kali. Alasannya adalah Anda dapat mengistirahatkan otot panggul dan lebih bisa memusatkan diri pada rasa terangsang Anda sendiri.

Bagi wanita posisi ini dapat membuatnya mengarahkan Mr.P ke arah bagian sensitif di vaginanya, termasuk bagian titik G-nya. Jadi pada posisi ini banyak wanita mudah bisa mencapai orgasme.

Pada posisi ini Anda dapat menggunakan jari-jari tangan Anda untuk meraba dan merangsang kelentitnya dan membantunya mencapai puncak. Di sini Anda juga bisa dengan leluasa mencumbu dan menghisap payudaranya sambil terus bersetubuh.

Posisi ini sangat baik untuk pria yang mudah berejakulasi atau pada saat wanita dalam masa kehamilannya, sehingga perutnya yang membesar tidak tertekan.

Posisi Pria dari Belakang

Sering disebut dengan dog style. Posisi ini bisa menimbulkan kenikmatan dan rangsangan yang lebih bagi Anda karena dalam posisi ini Miss V pasangan akan terasa lebih rapat. Karena itu posisi ini jangan dilakukan sebagai posisi permulaan persetubuhan khususnya untuk Anda yang sukar mengendalikan ejakulasi.

Dalam posisi ini Anda akan memasukkan Mr.P Anda secara mendalam sehingga menjadi alasan bagi wanita untuk menyukai posisi ini karena menyukai pemasukan Mr.P yang sangat dalam.

Semakin melengkung ke depan tubuh wanita pasangan Anda, makin dalam Mr.P dapat masuk ke liang Miss V. Posisi ini sangat baik bagi pria yang ukuran vitalnya tidak terlalu besar atau bagi wanita yang memiliki vagina lebar. Bagi Anda posisi ini akan sangat merangsang karena Anda bisa melihat pantat atau pinggul pasangan Anda secara langsung. Posisi ini juga memungkinkan terkenanya titik G pasangan Anda.
Sumber: kapanlagi.com
Bayi Kuning

Bayi Kuning

Setiap keluarga akan berbahagia begitu buah hatinya lahir ke dunia. Namun, kadang-kadang kebahagiaan seringkali diganggu oleh rasa cemas begitu melihat si kecil kuning. Rasa cemas akan bertambah karena ketidaktahuan apa yang mesti dilakukan.

Sebenarnya kenapa sih bayi bisa kuning….?

Bayi kuning bisa bersifat fisiologis (normal) maupun patologis. Hampir dari 50% bayi yang lahir normal dapat mengalami kuning (jaundice). Hal ini disebabkan karena pigmen kuning atau yang dikenal dengan istilah bilirubin meningkat di dalam darah. Bilirubin ini terjadi akibat pemecahan sel-sel darah merah sewaktu bayi lahir.

Saat bayi dalam kandungan bilirubin indirek akan dibuang melalui plasenta selanjutnya oleh organ Hati si Ibu akan diolah (dikonyugasikan) menjadi bilirubin direk untuk dibawa ke usus selanjutnya dibuang lewat tinja.
Tetapi setelah bayi lahir proses tersebut diatas akan dilakukan oleh organ Hati si bayi. Karena fungsi hatinya belum sempurna, proses ini akan berjalan lambat sehingga bilirubin indirek tetap tinggi di dalam darah. Bilirubin indirek inilah yang masuk ke jaringan termasuk jaringan kulit sehingga bayi kelihatan kuning mulai dari badan sampai ke ujung kaki tergantung dari derajat tinggi kadar bilirubinnya.. Selain kulit bayi terlihat kuning, putih mata si kecil juga terlihat kuning.

Pada bayi normal umumnya sekitar 3-4 hari setelah lahir, kadar bilirubin pelan-pelan menurun seiring dengan bertambah sempurnanya fungsi organ Hatinya. Pada hari ke tujuh, bayi biasanya sudah tidak kuning lagi. Inilah penyakit kuning yang bersifat fisiologis (normal). Kondisi ini tentu tidak berbahaya bagi bayi. Jenis penyakit kuning yang patologis biasanya timbul lebih cepat yakni 24 jam setelah lahir kelahiran dan peningkatan kadar bilirubin berlangsung lebih cepat. Jenis penyakit kuning yang patologis ini bisa disebabkan oleh karena adanya infeksi, ketidakcocokan golongan darah si Ibu dan si bayi, serta kasus yang jarang bisa disebabkan oleh kurangnya enzim G6PD (Glukosa 6 Phosphate Dehidrogenase). Enzim ini terdapat dalam dinding sel darah merah yang berfungsi untuk mencegah kerusakan sel-sel darah merah.
Kuning karena ketidakcocokan golongan darah terjadi seandainya si Ibu bergolongan darah O sedangkan si bayi golongan darah A atau B. Ketidakcocokan juga terjadi jika golongan darah ibu rhesus negatif sedangkan si bayi rhesus positif.

Kadar bilirubin normal sekitar 2 mg/dl. Bayi mulai kelihatan kuning jika kadar bilirubin sudah mencapai 6-7 mg/dl. Namun seandainya kadar sudah mencapai lebih dari 12 mg/dl maka bayi perlu mendapat perawatan di RS agar kadar bilirubin tidak bertambah tinggi lagi. Perawatan dilakukan dengan meletakkan bayi di box kemudian dilakukan therapi sinar (fototherapi). Tujuan therapi ini untuk mengubah bilirubin yang ada di jaringan kulit yang tidak larut dalam air menjadi larut dalam air sehingga bisa dibuang lewat kencing. Disamping itu bayi yang kuning akan diberi suntikan antibiotik jika dicurigai penyebabnya oleh karena infeksi.
Jika kadar bilirubin diatas 20 mg/dl biasanya dokter mulai memikirkan kemungkinan dilakukan tranfusi darah (tranfusi tukar). Hal yang ditakutkan jika bilirubin tinggi sekali ia dapat menembus barrier otak sehingga dapat merusak sel-sel otak dimana bayi bisa mengalami kejang-kejang. Efek jangka panjang bisa terjadi kelumpuhan, gangguan pendengaran, penurunan kecerdasan serta kelainan neurologis lainnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan jika bayi Anda kuning:

  • Berikan ASI atau cairan sebanyak dan sesering mungkin
  • Bisa dilakukan penjemuran dibawah sinar matahari pagi antara pukul 06.30-07.30. Namun tetap diperhatikan kulit bayi agar tidak terjadi iritasi oleh karena sinar matahari. Lindungi mata bayi dari sorot sinar matahari pagi.
  • Perhatikan bayi apakah tampak lebih lemas, tidak aktif, tidak mau menyusui, serta tangisnya kurang kuat/merintih. Jika hal itu terjadi segera periksa ke dokter/RS
  • Jika bayi kuning lebih dari 2 minggu segera periksa ke dokter /RS.
DANDANG GENDIS

DANDANG GENDIS

DANDANG GENDIS


Nama latin: Clinacanthus nutans

Nama daerah: Kitajan; Gendis

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu tahunan, tinggi lebih kurang 2,5 meter. Batang berkayu, tegak, beruas, dan berwarna hijau. Daun tunggal, berhadapan, bentuk lanset, panjang 8-12 mm, lebar 4-6 mm, bertulang menyirip, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, di ketiak daun dan di ujung batang, mahkota bunga berbentuk tabung, panjang 2-3 cm berwarna merah muda. Buah kotak, bulat memanjang berwarna cokelat.

Habitat: Tumbuh liar di pekarangan dan sebagai tanaman pagar pada ketinggian 1-900 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkaloid; Saponin; Minyak atsiri

Khasiat: Antidiabetik; Diuretik

Nama simplesia: Clinacanthai nutans Folium


RESEP TRADISIONAL:

Kencing manis:

Daun dandang gendis segar 7 g; Air 110 ml, Dibuat infus atau seduhan, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

DARUJU

DARUJU

DARUJU


Nama latin: Acanthus ilicifolium L.

Nama daerah: Druju; Jruju; Jaruju; Jeruju

Deskripsi tanaman: Tanaman semak, semusim, tinggi lebih kurang 1 meter. Batang bulat lunak, bercabang, warna hijau keputihan. Daun tunggal, bertulang menyirip, bentuk bulat telur, tepi berduri, berwarna hijau. Bunga tunggal di ketiak daun dan di ujung batang, bermahkota enam membulat berwarna kuning. Buah kotak, bentuk tabung, beruang enam dan berwarna hijau.

Habitat: Tumbuh liar di daerah pantai, tepi sungai tanah berlumpur dan berair payau.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Asam fenolat; Asam p-kumarat; Asam p-hidroksi benjoat

Khasiat: Ekspektoran; Antifogistik

Nama simplesia: Acanthi Radix


RESEP TRADISIONAL:

Kanker:

Akar daruju 7 g; Daun dewa segar 4 g; Herba benalu 3 g; air 120 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

Hepatitis:

Akar daruju 7 g; Rimpang temu lawak segar 7 g; Herba meniran 7 g; Air 130 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml

DAUN DEWA

DAUN DEWA

DAUN DEWA


Nama latin: Gynura procumbens (Lour.)Merr.

Nama daerah: Beluntas cina

Deskripsi tanaman: Tanaman semak semusim, tinggi 10-25 cm, berbatang lunak, berambut halus, warna ungu kehijauan. Daun tunggal, bentuk bulat telur, berbulu lebat, permukaan atas hijau, bawah ungu. Bunga majemuk berbentuk tongkat, berbulu, kelopak hijau, mahkota berwarna kuning. Buah kecil berwarna coklat.

Bagian tanaman yang digunakan : Seluruh tanaman dengan rincian - DAUN berguna untuk luka terpukul, melancarkan sirkulasi, menghentikan perdarahan (batuk darah, muntah darah, mimisan), pembengkakan payudara, infeksi kerongkongan, haid tidak teratur dan digigit binatang berbisa. UMBI - untuk menghilangkan pembekuan darah, pembengkakan tulang patah, pendarahan nifas.

Cara budidaya : Perbanyak tanaman dengan menggunakan stek batang atau stump. Stek dari batang yang keras 5-10 cm. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan cara penyiraman cukup, menjaga kelembaban dan pemupukan dasar.

Kandungan kimia: Saponin; Flavonoid

Efek Farmakologis : Tumbuhan ini bersifat anti coagulant (mencairkan bekuan darah), stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan, menghilangkan panas, membersihkan racun. Dalam farmakologi cina disebutkan tumbuhan ini memiliki rasa khas dan sifat netral.

Khasiat: Antipiretik; Anti inflamasi

Nama simplesia: Gynurae Folium


RESEP TRADISIONAL:

Kanker:

Daun dewa segar 4 g; Akar daruju 7 g; Herba benalu 3 g; air 120 ml, Ditumbuk; ditambah air mendidih; disaring, Diminum 1 hari sekali 100 ml; selama 30 hari.

Tekanan darah tinggi:

Daun dewa segar 3-7 helai; buah mengkudu muda 1 buah; Air 110 ml, Diseduh, Diminum 1-2 kali sehari 100 ml; selama 1 bulan.

Kencing manis:

Daun dewa 5 helai; Air 110 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Pembersih luka:

Daun dewa secukupnya; Air secukupnya, Daun dewa ditumbuk halus lalu dimasukkan ke dalam air, Luka yang kotor dimasukkan ke dalam air yang dicampur daun dewa

DAUN DUDUK

DAUN DUDUK

DAUN DUDUK

Nama latin: Desmodium triquitrum

Nama daerah: Genteng cangkeng; Ki congcorang; Cencer; Potong kujang; Gerji; Gulu walang

Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi lebih kurang 3 meter. Batang berkayu, bulat beruas, permukaan kasar, diameter lebih kurang 2 cm berwarna cokelat. Daun tunggal, berseling, berbentuk lanset, panjang 10-20 cm, lebar 1-2 cm, bertulang menyirip, daun muda berwarna cokelat setelah tua berwarna hijau. Bunga majemuk berbentuk mulai tumbuh di ujung batang, mahkota putih keunguan berbentuk kupu-kupu. Buah polong, masing-masing 4-8 biji, buah muda berwarna hijau, setelah tua berwarna cokelat

Habitat: Tumbuh ditempat terbuka dengan cahaya matahari cukup, sedikit naungan serta tidak begitu kering pada dataran rendah sampai 1500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkoloid hepaforina; Trigonelina; Tanin

Khasiat: Anti inflamasi; Antipiretik; Diuretik; Stomakik; Paratisid

Nama simplesia: Desmodii triquetri Folium

RESEP TRADISIONAL:

Batu ginjal:

Daun duduk segar 6 g; Daun keji beling segar 3 g; Herba kumis kucing segar 6 g; Air 115 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

Radang amandel:

Daun duduk segar 7 helai; Daun sirih segar 2 helai; Herba pegagan segar 1 genggam; Rimpang kunci pepet 5 rimpang; Air 1 gelas, Dipipis, Untuk berkumur 2 kali sehari; pagi dan sore; tiap kali 1/2 gelas.

Wasir:

Daun duduk segar 6 g; Air mendidih 100 ml, Diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.

DAUN ENCOK

DAUN ENCOK

DAUN ENCOK


Nama latin: Plumbago zeylanica L.

Nama daerah: Ki encok; Poksor; Bawa; Kareka

Deskripsi tanaman: Tumbuhan semak berbatang lunak, dan tumbuh berumpun. Bentuk daun bulat telur, bunga berwarna putih dalam tandan. Buah memanjang kecil dengan bulu kasar yang berperekat, berwarna hijau waktu muda.

Habitat: Tumbuh liar di tepi-tepi sungai dan di pagar-pagar rumah di pegunungan.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun ; Akar


Kandungan kimia: Plumbagin; Zat samak

Khasiat: Analgesik; Antibengkak; Antimikroba

Nama simplesia: Plumbaginis Folium


RESEP TRADISIONAL:

Sakit pegal linu:

Daun Encok 5 lembar; Daun seligi 1 genggam; Tikel balung 3 ruas; Daun kecubung 3 lembar, Semua bahan ditumbuk halus lalu direndam dalam alkohol 70 persen minyak gondopuro dan minyak serai (dengan perbandingan 3:2:1)atau alkohol 150 cc; gondopuro 110 cc; minyak serai 50 cc, Direndam lalu dioleskan pada tempat yang sakit.

DAUN JINTEN

DAUN JINTEN

DAUN JINTEN

Nama latin: Coleus amboinicus Lour.

Nama daerah: Sukan; Ajeran; Daun kucing; Daun kambing

Deskripsi tanaman: Tanaman semak, menjalar. Batang berkayu, lunak, beruas-ruas. Ruas yang menempel di tanah akan tumbuh akar, batang muda berwarna hijau pucat. Daun tunggal, mudah patah, bentuk bulat telur, tebal, tepi beringgit, berambut, panjang 6-7 cm, lebar 5-6 cm, bertulang menyirip, warna hijau muda. Bunga majemuk, berbentuk tandan, mahkota bentuk mangkok warna ungu.

Habitat: Tumbuh baik pada dataran rendah sampai 1100 m dpl, dibudidayakan sebagai tanaman hias.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Minyak atsiri; Fenol; Kalium

Khasiat: Ekspektoran; Antiseptik; Karminatif

Nama simplesia: Plectranthi amboinici Herba


RESEP TRADISIONAL:

Batuk:

Daun jinten segar 7 helai; Air 100 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 2 kali sehari; pagi dan sore; tiap kali minum 100 ml; diulang selama 14 hari

Sariawan perut:

Daun jintan segar 1 g; Daun saga segar 3 g; Herba pegagan segar 3 g; Daun Sirih segar 3 helai; Kulit kayu turi 4 g; Air 110 ml, Dibuat infus atau dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml (infus); apabila dibuat pipisan diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; diulang selama 7 hari.

Sakit kepala:

Daun jinten segar 2 helai; Daun legundi segar 2 helai; Rimpang jahe merah 1 rimpang; Rimpang bangle secukupnya; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan ke pelipis dan di belakang telinga; bila ada; dapat ditambahkan minyak kelonyo.

DAUN KAKI KUDA / Pegagan

DAUN KAKI KUDA / Pegagan

DAUN KAKI KUDA / Pegagan


Nama latin: Centella asiatica Urb

Nama daerah: Pegagan; Gagain; Pegaga; Penggaga; Ganggagan; Bagigan; Kerok; Calingan.

Deskripsi tanaman: Tanaman penutup tanah, termasuk tumbuhan herba dengan batang horizontal, setiap ruas keluar akar dan menjalar ditanah. Daun berbentuk ginjal, bergerigi, dan pada pangkal berbentuk pelepah. Bentuk bunga panjang berkelopak 2-3, berhadapan dengan daun. Perbanyakan dengan tunas akar.

Habitat: Tumbuh liar ditanah yang agak lembab di daerah dengan ketinggian 1-2500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Glikosida asitikosida; Velarin; Alkolisulfat; Damar; Tanin.

Khasiat: Antipiretik; Diaforetik; Diuretik; Infeksi

Nama simplesia: Centellae Herba


RESEP TRADISIONAL:

Sakit maag dan Perut kembung:

Pegagan 5 g; Pupus pepaya 1 g; Adas 7 g; Jinten 3 g; Kencur (diparut)5 g; Sembung legi 5 g; Daun pooh 6 g; Pulosari 5 g; Ketumbar 2 g; Falerian 10 g; Air 500 ml, Semua bahan direbus, Diminum untuk 1 hari.

Demam dan Menambah nafsu makan:

Herba pegagan 5 g; Air secukupnya, Diseduh, Diminum sebagai pengganti air teh.

Asma dan Batuk:

Herba pegagan segar 2 genggam; Air secukupnya, Dipipis, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; selama 14 hari.

Sariawan usus dan Disentri:

Herba pegagan segar 2 genggam; Rimpang kunyit segar 1 jari; Rasuk angin (serbuk)1 sendok teh; Ketumbar 9 butir; Air 110 ml, Ditumbuk; Tambahkan air; Disaring; Dididihkan, Diminum 1 kali sehari 100 ml; selama 7 hari.

Wasir:

Herba pegagan segar 2 genggam; Daun wungu 7 helai; air 110 ml, Ditumbuk; tambahkan air; disaring dan dididihkan, Diminum 1 kali sehari 100 ml; selama 30 hari.

DAUN SALAM

DAUN SALAM

DAUN SALAM

(Syzygium polyathum (weight.) Walp. )

Famili : Myrtaceae

Daerah : meselangan, ubar serai, gowok, manting atau kastolam.

Asing :

Sifat Kimiawi : Minyak Atsiri (0.05%) yang mengandung sitral, eugenol, Tanin dan flavonida.

Efek Farmakologis : Daun - rasa kelat dan wangi, Astringent, memperbaiki sirkulasi.

Bagian tanaman yang digunakan : Daun, kulit batang, buah dan akar.

Uraian tanaman :

Pohon salam tumbuh liar di hutan, di daerah pegunungan maupun ditanam di halaman rumah sebagai tanaman bumbu. Tumbuhan berbatang besar dan tinggi ini, tingginya bisa mencapai 25 m. Daunnya yang rimbun, berbentuk lonjong / bulat telur, berujung runcing bila diremas mengeluarkan bau harum. Bunganya putih dan harum. Buahnya keciI-kecil sebesar buni dan rasanya sedikit sepat. Ketika masih muda buahnya berwarna hijau, kemudian kalau sudah tua berwarna merah kehitaman.

Cara budidaya : Dengan biji atau stump.

Penyakit yang dapat disembuhkan dan cara penggunaannya.

1. Diare : Daun 15 gr dicuci, direbus dengan 1 gls air selama 15 mnt, tambah sedikit garam, saring lalu diminum sekaligus. Bisa juga kulit batang dipotong lalu diminum seperti teh.

2. Kencing Manis : Daun 7 lbr dicuci bersih, direbus dengan 3 gls sampai menjadi 1 gls, disaring dan diminum untuk 2x.

3. Maag : Daun 15-20 lbr, cuci dan rebus dengan 0.5 ltr air sampai mendidih, tambahkan gula merah secukupnya dan minum sebagai teh.

4. Mabuk alkohol : Satu genggam buah salam masak dicuci bersih, ditumbuk sampai halus, peras dan saring lalu minum.

5. Kudis, gatal : Daun atau kulit batang atau akar, dicuci bersih lalu digiling halus sampai manjadi adonan seperti bubur, balurkan ketempat yang sakit.

DAUN SENDOK

DAUN SENDOK

DAUN SENDOK

Nama latin: Plantago major L.

Nama daerah: Daun urat; Ekor angin; Ekor menjangan; Ki urat; Ceuli uncal; Meloh kiloh; Otot-ototan; Sembung otot; Suri pandak; Sang koba; Terongoat

Deskripsi tanaman: Tumbuhan terna tahunan, berkembang secara luar biasa dengan rimpang tegak, tinggi tanaman 60-80 cm.

Habitat: Tumbuh di tanah yang disinari matahari atau agak teduh, dipinggir-pinggir jalan berumput dan di lapangan rumput, di hutan atau tempat terbuka.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tanaman

Kandungan kimia: Lendir; Asam D-galakturonat; Pluntagon; ankobin(glikosid); Nivertin; Emulsin(enzim); Vitamin C; Alkaloida; Tanin; Minyak lemak

Khasiat: Anti inflamasi; Diuretik; Antipiretik; Ekspektoran

Nama simplesia: Plantaginis majoris herba

RESEP TRADISIONAL:

Bisul:

Seluruh tanaman daun sendok 3 tanaman; air 2 gelas, Campuran direbus sampai diperoleh 1 gelas; disaring, Diminum sehari 1 kali 1 gelas.

Kudis:

Daun sendok segar 7 lembar; Daun sambiloto segar 7 lembar; air 2 gelas, Campuran direbus hingga diperoleh 1 gelas; disaring, Diminum sehari 2 kali; 1 gelas.

Batu ginjal:

Herba daun sendok segar 7 g; Akar alang-alang 7 g; Daun keji beling segar 2 g; Herba kumis kucing segar 6 g; Herba meniran segar 2 g; Air 130 ml, Dibuat infus atau dipipis, Diminum 1 kali sehari 100 ml; apabila dibuat pipisan; diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; diulang selama 14 hari.

Hepatitis dan Radang usus:

Herba daun sendok segar 1 genggam; Rimpang temu lawak segar 7 keping; Air secukupnya, Rimpang temu lawak segar disangrai; kemudian dipipis bersama herba daun sendok, Diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir; diulang selama 7 hari sampai 14 hari.

Rematik:

Herba daun sendok segar secukupnya; Air secukupnya, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bagian yang sakit; diperbaharui setiap 3 jam sekali.

Wasir:

Herba daun sendok segar 1 genggam; Daun wungu segar 7 helai; Air 100 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml; diulang selama 14 hari.

DAUN SERIBU

DAUN SERIBU

DAUN SERIBU

Nama latin: Achillea millefolium

Nama daerah: Godong sewu; Daun hidung berdarah; Gandana; Momadra

Deskripsi tanaman: Herba (Rumput - rumputan)tinggi 15-50 cm. Daun bercangap menyirip, pada masa vegetatif, daun tumbuh membentuk roset, karena batang belum muncul di atas tanah, lebar anak daun hanya 2 mm. Bunga pada tandannya membentuk payung berwarna kemerahan atau putih, tabungnya berwarna kuning, pada saat berbunga tangkainya tumbuh cepat sehingga tampak ruasnya memanjang. Buahnya kecil-kecil dan kulit tidak pecah.

Habitat: Tumbuh baik pada ketinggian tempat 900-1500 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan

Kandungan kimia: Akhileina; Stakhidrina; Kholina; Polina; Apigenin; Inulin; Flavon; Glikosida benzaldehidsianhidrin; Zat samak; Asparagin; Minyak lemak.

Khasiat: Diaforetik; Antipiretik; Diuretik; Hipotensif; Antiseptik.

Nama simplesia: Achilleae millefolli Herba

RESEP TRADISIONAL:

Gangguan syaraf:

Daun seribu kering 30 g; Air 2 gelas, Daun direbus hingga cairannya tinggal 1 gelas, Diminum setiap jam

Gangguan pencernaan:

Daun seribu ditumbuk halus 1 sendok makan; Madu 1 sendok makan, Keduanya diaduk menjadi satu, Sehari minum 3 kali; tiap kali minum 1 cangkir; setiap hari hendaknya makan buah pepaya.

DAUN SIRIH

DAUN SIRIH

DAUN SIRIH

Nama latin: Piperbetie L.

Nama daerah: Sirih; Suruh

Deskripsi tanaman: Perdu, merambat, batang berkayu, berbuku-buku, bersalur, berwarna hijau keabu-abuan. Daun tunggal, bulat panjang, berwarna kuning kehijauan sampai hijau tua, yang sudah bisa dipetik biasanya sudah selebar 10 cm, panjang 15 cm. Buah buni, bulat, berwarna hijau keabu-abuan.

Habitat: Tanaman ini dapat tumbuh di daerah yang lembab.

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Eugenol; Metil eugenol; Karvakral; Kavikal; Alil katekal; Kalribetol; Sineol; Estragol; Karoten; Tiamin; Riboflavin; Asam nikotinat; Vitamin C; Tanin; Gula; Pati; Asam amino

Khasiat: Astringen; Ekspektoran; Sialagoga; Hemostatik; Antiseptik

Nama simplesia: Piperis Folium

RESEP TRADISIONAL:

Kaki bengkak:

Daun sirih 2 helai; Cabai jawa 3 buah; Lempuyang emprit 1 rimpang; Beras sedikit; Air sedikit; Arak secukupnya, Ramuan dihaluskan dengan bantuan sedikit air; kemudian ditambah arak secukupnya, Digosokkan pada kaki yang bengkak sebelum tidur.

Keputihan:

Daun sirih 2 helai; Daun Jambu biji 5 helai; Air 210 ml, Dibuat infus, Dicebokkan 2 kali sehari.

Malaria:

Daun sirih segar 20 helai; Daun sembung 20 helai; Daun asam 1 genggam; Daun beluntas 20 helai; Kulit kayu pulai 3 jari tangan; Air 2 panci, Dididihkan, Uapnya digunakan untuk mandi ukub(mandi uap).

Napas/mulut bau:

Daun sirih 3 g; Air 110 ml, Dibuat infus, Untuk berkumur 2 kali sehari; tiap kali pakai 50 ml.

Nyeri sendi:

Buah sirih 5 butir; Lempuyang emprit 1 rimpang; Ragi secukupnya, Dihaluskan ditambahan arak, Digosokkan pada tempat yang nyeri.

Pendarahan hidung(mimisan):

Daun sirih, Diremas dan digulung, Dimasukkan ke dalam hidung.

Radang mulut:

Daun sirih 2 helai; Air 110 ml, Dibuat infus, Untuk berkumur 2 kali sehari; tiap kali pakai 100 ml.

Suara parau dan Batuk:

Daun sirih 2 g; Buah kapulaga 1 g; air 110 ml, Dibuat infus atau diseduh, Diminum 1 kali sehari 100 ml.